Milenials Cinta NKRI Wajib Baca Buku Kewiraan

Milenials Cinta NKRI Wajib Baca Buku Kewiraan

Mengaku generasi yang cinta NKRI, nasionalis, pancasilais? Hayo ngaku, siapa milenial yang semangatnya seperti itu ! Bro dan sis sudah pernah “ngeh” dengan istilah Kewiraan, Wawasan Nusantara, Tannas, Polstranas, Hankamnas, dan Hankamrata?

Kalau jawabannya “ya”, selamat kalian termasuk golongan tua, wkwkwkwk…

Ngomong soal tanah air, tanah tumpah darah, pokoknya yang berbau kenegaraan tidak akan ada habisnya. Kisah-kisah ini dimulai dari pedih dan sengasaranya rakyat Indonesia dibawah penjajahan. 3,5 abad dijajah oleh belanda dan negara-negara adikuasa lainnya seperti; portugis, jepang, dan inggris. Sampai tiba pada zaman kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, masa orde lama-orde baru, hingga sekarang.

Jas Merah, merupakan pesan dari founding father bangsa indonesia, Soekarno. Terlepas dari pro-kontra sejarah, sosok Soekarno tentu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah), quote ini penting. Setiap generasi bangsa ini perlu mengetahui bagaimana perjalanan panjang yang ditempuh oleh para tokoh, pejuang, dan pahlawan.

Hidup dibawah penjajahan bangsa lain merupakan kondisi mengerikan dan tidak satupun yang menginginkan. Jadi, perlu upaya keras dalam mencapai kemerdekaan yang benar-benar hakiki. Dimana bangsa indonesia bisa hidup sesuai dengan kekayaan prinsip falsafahnya. Negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi“, ” Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo“, dan semboyan daerah lain di Nusantara.

Baca Juga: Dampak New Normal Bagi Dunia Pendidikan

cinta nkri - buku kewiraan terbitan lemhannas

Yuk bersama belajar biar semakin cinta NKRI ! Berikut adalah ringkasan salah satu rujukan pelajaran kewarganegaraan yang cukup “pas”. Lebih lengkapnya silahkan baca sendiri ya…. hehehe…

5 Topik Inti menuju pada Cinta NKRI

Kewiraan berasal dari kata “wira” yang berarti satria, patriot, dan pahlawan. Karena mendapatkan prefix ke- dan sufix -an, maka dipahami sebagai kesadaran, kecintaan, dan keberanian membela bangsa dan tanah air Indonesia. Tulisan ini bersumber pada buku KEWIRAAN terbitan LEMHANNAS tahun 1998 (Cet. ke-20). Plus “sense” nasionalisme pribadi atas kondisi saat ini, sebagai bentuk tanggungjawab dan andil warga negara.

Wawasan Nusantara

Dalam Hal. 16 disebutkan bahwa wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa indonesia tentang diri dan lingkungannya. Yang didasarkan pada ide nasional, landasan pancasila, UUD 1945, dan aspirasi bangsa Indonesia. Wawasan ini dilandasi atas 2 latar belakang yakni;

  1. Geografi, Geopolitik, dan Geostrategi
  2. Historis dan Yuridis Formal

Atas unsur dasar wadah, isi dan perilaku, wawasan nusantara memiliki dampak aspek penerapan, antara lain;

  1. Pengakuan atas landas kontinen dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia oleh forum internasional
  2. Sumber daya alam yang cukup besar atas pertambahan luas ruang lingkup tersebut (landas kontinen dan ZEE)
  3. Wilayah atau teritori menjadi lalu lintas perdagangan internasional
  4. Konsep Bhineka Tunggal Ika dengan asa tunggal pancasila
  5. Terbitnya GBHN, REPELITA dan APBN

Ketahanan Nasional

National Resilience atau ketahanan nasional adalah sebuah kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan dengan cara mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi ATHG. Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) bisa dari luar maupun dalam. Hal tersebut tentu akan membahayakan integritas, identitas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Metode yang digunakan dalam mencapai ketahanan nasional dikenal dengan istilah Astagatra. Kemudian dijelaskan konsep “10 gatra” tersebut dalam hubungan timbal balik (interelasi). Yang kemudian dikenal dengan Trigatra dan Pancagatra.

Perwujudan Trigatra
1. Aspek lokasi & posisi geografis dalam ketahanan nasional
2. Aspek Keadaan dan SDA dalam ketahanan nasional
3. Aspek Penduduk dalam ketahanan nasional
Perwujudan Pancagatra
1. Ketahanan Nasional bidang Ideologi
2. Ketahanan Nasional bidang Politik
3. Ketahanan Nasional bidang Ekonomi
4. Ketahanan Nasional bidang Sosial Budaya
5. Ketahanan Nasional bidang Hankam

Politik Strategi Nasional

Bagi sebagian milenial yang cinta NKRI mendengar kata “politik” bisa mandatangkan alergi. Hal ini lantaran kita banyak menyaksikan praktik-praktik politik “busuk” yang dimunculkan oleh beberapa tokoh politik. Saya pribadi tidak bisa menyalahkan hal yang demikian. Namun, harus ada generasi penerus yang hadir dalam masalah-masalah politik tersebut. Memang tidak mudah, tapi coba bayangkan kalau perpolitikan tidak dihadiri oleh generasi penerus yang “lurus”. Apa jadinya, milenial terbaik hanya akan jadi penonton, bukan pemain !

Dari segi kepentingan penggunaanya, politik dapat dimaknai dari sisi kepentingan umum dan secara kebijaksanaan (policy). Politik dari sisi kepentingan umum mengacu pada individu atau kelompok individu untuk memiliki kepentingan tersendiri. Mereka akan memiliki asas/prinsip, jalan, cara, dan alat masing-masing untuk mencapai kepentingan tertentu. Contoh riilnya adalah adanya partai-partai politik yang menjadi wadah untuk mencapai kepentingan tertentu.

Sedangkan politik secara kebijaksanaan adalah tindakan individu atau kelompok individu mengenai suatu masalah dari masyarakat atau negara. Dalam hal ini, baik partai politik maupun pemerintahan negara memiliki peranan dalam kegiatan yang menyangkut public policy. Hanya saja, kebijakan politik negara dalam menjamin hajat hidup masyarakat mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan mengikat.

Strategi sendiri mengacu pada suatu kerangka rencana dan tindakan yang disusun dan disiapkan dalam suatu rangkaian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Istilah strategi awalnya dikenal dalam bidang militer dan peperangan. Strategi merupakan “seni” dalam mendistribusikan dan menggunakan sarana militer untuk mencapai tujuan politik (kemenangan).

Memahami Polstranas ini perlu berpijak pada dasar pemikiran dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Dasar pemikiran mengacu pada Geopolitik bangsa indonesia, wawasan nusantara, ketahanan nasional, dan tata bina nasional. Sedangkan faktor yang mempengaruhi polstranas antara lain; ideologi dan politik, ekonomi, sosial budaya, hankam, ancaman.

Polstranas memiliki tujuan untuk apa? Setidaknya ada 4 hal yakni;

  1. Penyusunan Program Nasional
  2. Penyusunan Perencanaan Polstranas
  3. Penyusunan Anggaran dan Pembiayaan Polstranas
  4. Penyusunan Data dan Informasi Polstranas
  5. Integrasi Polstranas dan Teknologi

Pertahanan Keamanan Nasional

Hankamnas atau Pertahanan Keamanan Nasional merupakan upaya dalam bidang pertahanan dari segala ancaman dari dalam maupun luar negara oleh badan pertahanan keamanan negara. Konsep pertahanan lebih pada upaya penggagalan usaha-usaha dan rencana agresi musuh secara fisik. Sedangkan konsep keamanan ditujukan pada kegiatan infiltrasi dan subversi di bidang IPOLEKSOM (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Keamanan).

Upaya pertahanan pada tahun 90an ke bawah berada pada kendali ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indoneisa). Saat ini institusi tersebut “pisah ranjang” setelah peristiwa reformasi 98. Sehingga tugas institusional pertahanan berada ditangan TNI (Tentara Republik Indoneisa). Sedangkan konsep keamanan berada di tangan POLRI (Kepolisian Republik Indonesia). Pada tataran bawah upaya keamanan dibantu oleh LINMAS (Perlindungan Masyarakat).

Dalam Hankamnas tentu ada kegiatan politik dan strategi untuk mencapai tujuan dengan cara tertentu. Mewujudkan pertahanan dan keamanan nasional perlu pendekatan politik ke dalam dan ke luar. Strategi yang digunakan pun bermacam-macam dan kompleks. Perlu pemahaman lain terhadap instrumen negara lain seperti kementerian-kementerian yang behubungan langsung mengenai hankamnas.

Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta

Poin of Interestnya pembahasan tentang pendidikan kewarganegaraan adalah Hankamrata (pertahanan keamanan rakyat semesta). Apa itu hankamrata? merupakan upaya pengerahan seluruh kekuatan nasional secara total dan integral dengan mengutamakan kekuatan militan dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. Hankam Rakyat Semesta merupakan manifestasi penderitaan penjajahan, upaya perlawanan, dan hasil kemerdekaan yang harus dijaga total dengan cara apapun.

Persengkataan baik dari dalam maupun dari luar tentu akan membahayakan kedaulatan negara. Pernah mendengar pemberontakan G30-S/PKI tahun 1965 atau gerakan DI/TII ? ini adalah bentuk persengketaan dalam negeri dalam bidang hankam. Belum bidang-bidang lainnya seperti “kisruh” politik dan pengesahan perundang-undangan yang berpotensi menjadi persengketaan. Belum lagi GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan RMS (Republik Maluku Selatan) yang sampai saat ini masih ada.

Bagaimana dengan contoh persengketaan dari luar? Indonesia beberapa kali pernah bersengketa dengan negara tetangga Malaysia. Mulai dari konfrontasi “ganyang malaysia” pada masa Soekarno. Sampai pada sengketa kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan di forum internasional PBB. Dan mungkin masih banyak bentuk persengketaan lainnya dalam bentuk atau bidang lain. Dari sini, kondisi saat ini dapat dikatakan “ngeri” dan tidak bisa dikatakan “All is Well”.

Setiap waktu dan setiap saat ATHG selalu muncul dan tidak akan pernah berhenti. Why? Setiap negara punya haluan atau ideologi sebagai cita-cita dan pandangan hidup. Dan terkadang cita-cita tersebut harus mengancam dan menghancurkan negara lain. Peperangan menjadi cara yang mau tidak mau dilakukan. Bukan lagi melakukan perang umum, perang terbatas, atau perang terbuka yang dapat ditonton oleh seluruh dunia. Lalu bagaimana?

Cold War atau perang dingin adalah pilihan yang soft, silent, and deadly. Perang dengan cara ini memanfaatkan bidang IPOLEKSOSBUD, teknologi, dan psikologi. Negara yang ingin memerangi negara lain secara “dingin” akan menginfiltrasikan bidang tersebut. Dalam kondisi perang seperti ini, peran negara melalui alat dan instrumen negara memiliki peranan yang sangat menentukan.

Berdasarkan konsep hankamrata, masyarakat terkhusus kaum milenial yang cinta NKRI wajib hadir. Kita harus paham bentuk-bentuk acaman terhadap keamanan dan keselamatan bangsa dan negara. Apa saja bentuknya? mulai dari subversi dan insurjensi, teror, invansi militer, psychological warefare, economic warfare, dan bentuk “warfare” lain yang mungkin akan muncul.

Mencintai sesuatu, khususnya rasa cinta NKRI perlu bukti. 5 hal tadi sebagai dasar untuk mencintai negara kesatuan republik indonesia. Paham ?

Memahami Geopolitik & Geostrategi Solusi Cinta NKRI

Geografi, Politik, dan Strategi

Saya akan menutup buku “kewiraan” yang telah saya baca untuk menjabarkan 5 poin di atas. Saya coba menyampaikan tentang 3 hal yang penting yakni; geografi, politik, dan strategi. Pemikiran saya sedikit banyak mencontek salah satu tokoh viral misterius Mardigu Wowiek si bossman sontoloyo.

Geografi adalah ilmu tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Secara lokasi Indonesia dapat diketahui “alamat”nya melalui garis lintang dan garis bujur. Berada pada “apitan” daratan benua dan perairan (laut dan samudera). Dilalui oleh ring of fire dari sumatera-jawa-sulawesi. Alhasil, Indonesia memiliki kekayaan SDA yang luar biasa dari sisi energi, tambang, dan pangan.

Berapa juta ton hasil laut, hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil tambang Indonesia dalam 1 tahun, 10 tahun, bahkan 100 tahun. Berapa puluh ribu bahkan ratus ribu pelaku usaha besar atau industri dan UMKM yang tersupply dari hasil SDA tersebut? Tentu ini akan semakin mendongkrak “bergaining power” Indonesia dimata dunia. Kita sepakat ya… dengan kalimat ini, “kalau dikelola dengan baik, pasti cukup dan mensejahterakan kehidupan rakyat”.

Dari pembahasan sebelumnya, politik adalah suatu pandangan atau arah kebijakan yang merupakan tujuan dan kepentingan. Sedangkan strategi adalah cara dan tahapan pelaksanaan tujuan dan kepentingan tersebut. Dan politik tidak bisa lepas dari ideologi yang dianut oleh sebuah negara. Kalian tentu pernah mengenal ideologi bangsa-bangsa semasa PD 1 dan PD 2. Ideologi kapitalisme, ideologi liberalisme, ideologi sosialisme, dan masih banyak lagi lainnya.

Bangsa kita apa ideologinya? Pancasila dengan 5 sila pokok sebagai dasar bernegara. Konsep pancasila ini pernah disampaikan oleh Soekarno dalam forum internasional PBB. Maka, Pancasila adalah dasar bagi pandangan berpolitik dan berstrategi atas hak geografis Indonesia, darat, laut dan udara. Atas dasar itu, Indonesia perlu memiliki pandangan geopolitik yang kuat atas;

  1. Lebensraum, negara memerlukan ruang hidup untuk menjamin kehidupan secara layak.
  2. Autarki, negara harus bisa mencukupi kebutuhan sendiri.
  3. Perserikatan wilayah atau pan-region, negara berserikat dengan negara lain dalam kawasan tertentu.
  4. Kekuatan darat dan kekuatan laut, negara berdaulat penuh atas wilayah darat dan perairan yang dimilkinya.
  5. Daerah perbatasan, negara memiliki hak atas “perbatasan alam” yang dimilikinya.

5 hal di atas merupakan gagasan Karl Haushofer yang perlu menjadi dasar geopolitik suatu negara. Bagaimana tentang geostrateginya?

Silahkan cek posisi geografis Indonesia secara internasional;

  1. Secara demografis negara indonesia diapit oleh negara berpenduduk besar di utara (China) dan berpenduduk sedikit di selatan (Australia).
  2. Secara Ideologi negara indonesia diapit oleh liberalisme di selatan dan komunisme di utara.
  3. Secara ekonomi negara indonesia diapit oleh kapitalisme di selatan dan sistem ekonomi terpusat di utara.
  4. Secara politis negara indonesia diapit oleh demokrasi parlementer di selatan dan diktator proletariat di utara.
  5. Secara sosial negara indonesia diapit oleh individualisme di selatan dan sosialisme di utara.
  6. Secara budaya negara indonesia diapit oleh kebudayaan barat di selatan dan kebudayaan timur di utara.
  7. Secara hankam negara indonesia diapit oleh sistem pertahanan kontinental di utara dan sistem pertahanan maritim di selatan , barat, dan timur.

Pilihannya hanya 2, menjadi pemain atau penonton. Potensi geografi indonesia secara internasional “sebenarnya” sangat vital dan berpotensi menjadi “super power”. Ini bukan pandangan berlebihan setelah kita bersama-sama memahami posisi geografi indonesia.

Globalisasi adalah “Pintu Masuk”

Globalisasi merupakan proses integrasi dan interaksi negara-negara menjadi satu tatanan. Globalist merupakan para pelaku globalisasi baik perorangan maupun kelompok. Globalisasi bisa menjadi ATHG suatu bangsa dalam mencapai cita-cita, tujuan, dan kepentingan nasionalnya.

Globalisasi adalah akibat geopolitik dan geostrategi yang dijalankan oleh suatu negara. Beberapa negara menerima dengan tangan terbuka globalisasi, sisanya menerima dengan setengah-setengah. Negara yang berhaluan komunis sosialis tidak begitu terbuka menerima globalisasi.

Globalisasi identik dengan perkembangan teknologi, baik teknologi informasi dan komunkasi, teknologi militer, teknologi industri dan sebagainya. Globalist akan mengarakan pandangan bahwa negara-negara di dunia merupakan suatu kesatuan tatanan. Globalisasi mungkin saja merupakan bentuk “cold war” baru di era milenium ini. Dimana sistem tatanan kehidupan saat ini merupakan hasil kesepakatan internasional. Tapi untuk kepentingan siapa?

Globalisasi dalam ideologi akan “menggeret” Indonesia menjadi proliberal atau prokomunis. Globalisasi ideologi adalah hal yang sangat fundamental dan akan mewarnai sendi kehidupan lainnya. Identitas bangsa akan semakin kabur bahkan hilang jika globalisasi tidak dibendung dengan strategi yang kuat dan tepat.

Cinta NKRI tapi “kelakuannya” Global(ist) apa mungkin sih?

World Domination

Tahun 2020 ini ada kekuatan besar yang mendominasi dunia, yakni Amerika dan China. Ini yang kasat mata loh ya, yang shadow country atau bahkan shadow man tidak perlu dibahas. Karena barometernya dunia saat ini mengarah ke 2 negara tersebut.

Dominasi sebuah negara tercermin dari kekuatan mereka dalam bidang tertentu. Amerika dengan dominasi militernya, China dengan dominasi Perdagangannya, dan sebagainya. Militer dan perdagangan merupakan 2 faktor yang cukup untuk mengubah kondisi global. Nah, yang perlu dipertanyakan adalah dominasi indonesia secara internasional apa?

Setiap negara hanya bisa memilih menjadi negara super power atau negara medioker (negara yang “B aja”). Perlu melihat sejarah untuk tahu bagaimana cara yang dilakukan oleh negara lain yang saat ini sudah bergelar super power. Langkah selanjutnya adalah “tahu diri” tentang potensi negaranya sendiri (Sudah panjang lebar di bahas di atas). Kemudian yang terakhir adalah Plan and Action untuk melesat menjadi negara super power.

Butuh Integritas dan Keberanian untuk melakukan 3 hal tersebut…

Sosok Bossman atau Si Sontoloyo yang Cinta NKRI

cinta nkri - mardigu wowiek

Sosok bossman atau si sontoloyo baru saya “pantengi” pada awal 2020an. Saya tertarik tentang bahasan dan ide-idenya yang “ces pleng”, apa adanya, bahkan “cadas” (menurut saya loh ya). Gaya ngomongnya yang gimick dan disertai istilah-istilah keilmuan yang mungkin asing bagi telinga. Menjadikan saya kecanduan untuk mengikuti aktivitasnya melalui saluran sosial medianya.

Mengutip dari situs saungwriter, sosok bossman yang sontoloyo ini cukup misterius. Nama aslinya Mardigu Wowiek Prasantyo, dikenal sebagai manusia multitalent. Ia banyak menguasai bisnis multi segmen, mulai dari energi, perbankan, investasi, sampai teknologi. Kepakarannya pun cukup lengkap, mulai dari geoekonomi, ekonomi makro (terkenal dengan MMTnya), geopolitik dan geostrategi.

Kepiawaiannya tidak didapatkan secara instan. Si Bossman adalah pelaku dunia bisnis secara langsung mulai dari tahun 90an sampai sekarang. Bahkan pernah didapuk sebagai staf ahli kemenhan sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Intelejen Nasional. Kok bisa? beliau pernah mengenyam program magister di San Francisco State University bidang keahlian Criminal Mind Forensic Investigator.

Generasi milenial perlu belajar dari sosok ini tentang bagaimana sih “cinta NKRI” itu. Why? saya bukan fanatik “tingkat dewa” kepada tokoh ini ya. Karena saya berprinsip bahwa kita hanya boleh percaya terhadap 80% ucapan dan perbuatan sosok yang kita kagumi. Tapi sisakan 20% untuk tidak mempercayai ucapan dan perbuatannya. So, let’s see what he talk

Mardigu WP adalah sosok manusia biasa yang juga punya kekurangan. Tapi, beliau sudah berusaha menunjukkan kualitas dirinya tentang masalah kenegaraan saat ini. Dalam setiap “story” yang ia unggah di media sosial, selalu ada analisis yang menarik. Kemudian di akhir pembahasannya yang berdurasi kurang dari 10 menit tersebut ada ide terselip. Ide atau gagasan yang menjadi solusi, dengan harapan negara dan rakyat mendengar dan tercerahkan.

Cinta NKRI adalah hak dan kewajiban setiap warga negara Indonesia. Sosok sontoloyo yang mengaku “singa tua” ini merupakan satu dari berjuta orang dari golongan tua yang masih peduli dan punya kemampuan untuk bersuara. Sekali lagi, milenial perlu tahu tentang kondisi negara saat ini. Dimana globalisasi sedikit demi sedikit menggerus falsafah kehidupan bangsa dan negara ini.

Kalian bisa “ngintip” bahkan belajar konten-konten faedah dari si-Bossman ini melalui; Facebook, Instagram, Youtube. Biar kalian semakian paham dan yakin “bener gak sih udah cinta NKRI ?”

Dibuang Sayang: Mata Kuliah yang Resek !

Ada kisah dibalik layar tentang topik kewiraan ini. Muncul mata kuliah “resek !” yang membuat gonjang-ganjing mahasiswa semester akhir.

Ceritanya begini,

Pada semester 8, beberapa mahasiswa sudah kelar menyusun skripsi bahkan sudah siap-siap yudisium. Keinginan untuk menjadi mahasiswa berprestasi bahkan cumlaude kandas. Ada 1 mata kuliah yang belum ditempuh dan menjadi ganjalan “kelulusan”.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Inti. Nah, itu mata kuliah yang menjadi “rasan-rasan” banyak mahasiswa. Mata kuliah 2 SKS ini ternyata “ketlisut” tidak diprogramkan oleh kampus. Alhasil, 2 kelas angkatan 2009 harus duduk manis kembali di bangku kuliah.

Untungnya, dosen pengampuh MK-nya enak dan renyah plus humble. Namanya Heru Sis… (lupa kepanjangannya, hehehe). Ada hikmah dibalik “masalah”, kita akhirnya mengenal kosakata baru “kewiraan”. Buku babon-nya yang sudah saya sebutkan di awal, terbitan LEMHANNAS (Lembaga Ketahanan Nasional) dan Dirjen Dikti Depdikbud tahun 1998 (cetakkan ke-20).

Bagi saya pribadi yang suka dengan hal-hal sejarah dunia, topik mata kuliah ini begitu menyenangkan. Seperti biasa, diskusi dan perdebatan selalu menjadi warna perkuliahan di kelas. Buku yang berjudul “Kewiraan untuk Mahasiswa” ini bak kitab kuno, kertasnya berbahan buram dan berwarna kecoklatan. Tapi, isinya “mantep jegreg” dan cukup lengkap untuk menumbuhkan semangat cinta NKRI.

Tulisan ini hanya salah satu cara menunjukkan rasa cinta NKRI. Sekian !

Tinggalkan komentar

Open chat
Diskusi yuk...