Bisnis Sukses - 4 hal yang harus kamu tahu

Bisnis Sukses Itu Kuncinya ada 4 Hal, Apa Saja?

Tulisan dengan topik bisnis sukses ini merupakan hasil pengalaman pribadi. Sumber kajiannya adalah pengamatan dan analisis lapangan. Dimana ngomong tentang bisnis selalu akan menarik dan tiada habisnya.

Case-nya sederhana saja, antara saya dan bapak saya. Bagaimana kami mengawali dan menjalankan sebuah bisnis. Apa saja proses yang kami lalui. Usia 15 tahun saya tentu berbeda dengan usia 15 tahun bapak saya.

Saat ini bapak berusia 55 tahun dan saya masih 30 tahun. Beliau memulai bisnis kulinernya diusia 15 tahun. Kalau saya bagaimana? Saya masih duduk di bangku SMP.

Sudah hampir 35 tahun bapak menjalankan bisnisnya. Mulai dari jual es keliling dan sampai saat ini berdagang bakso. Mulai dari nol banget ! Tidak ada bekal pendidikan apapun, SD saja “motol” (putus).

Beliau anak ke-2 dari 7 bersaudara. Pekerjaan utama orang tua (kakek-nenek saya) adalah petani. Bermodal ontel, keliling untuk berdagang. Bahkan harus mengadu nasib di Kota Surabaya selama kurang lebih 5-6 tahun.

Menurut cerita, saya pernah dititipkan di kampung bersama mbah. Entah kenapa, apa pada waktu itu kehidupan sudah cukup sulit di kota? Entahlah. Selama di Surabaya, Bapak dan emak harus ngontrak sebagai tempat tinggal.

Hingga, pada 1997-1998 kami sekelurga bisa kembali ke kampung halaman. Pekerjaan bapak tetap berdagang bakso. Dari jerih payahnya itulah, beliau bisa membeli sepetak tanah dan membangun rumah.

Bisnis Sukses adalah Mindset

Menurut saya, pola pikir sangat mempengaruhi perilaku seseorang. Dan pola pikir itu sendiri terbentuk dari faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal merupakan faktor yang under control, masih mungkin untuk dikendalikan. Faktor ini lebih menekankan pada mental seseorang. Bagaimana “otak” dan “hati” dikombinasikan untuk belajar dan merespon sesuatu.

Faktor eksternal merupakan variabel bebas yang sulit untuk dikendalikan. Faktor ini biasanya bersifat “Giving” atau pemberian. Kondisi yang “sudah ada” tersebut adalah fakta, mau tidak mau harus diterima.

Ini bukan aib ya, yang sudah berlalu biar berlalu. 5 dari saudara bapak, termasuk bapak tidak ada yang tuntas sekolah. Syukur-syukur bisa makan 3 kali sehari itu sudah beruntung. Dari mana biaya untuk sekolah?

Beberapa kali ngobrol santuy dengan bapak, beliau sebenarnya ingin sekali bisa sekolah. Kadangkala muncul rasa iri dengan teman lain yang bisa sekolah. Saat ini teman sebayanya yang dulu sekolah berprofesi sebagai guru, pengurus desa, dan beberapa karyawan disuatu perusahaan.

Kondisi seperti itulah yang membuat bapak untuk berpikir bagaimana memperbaiki bahkan merubah nasib. Rasa iri dan persaingan di usia muda menjadi pemicu dan pemacu untuk terus berusaha.

Beliau berpikir bahwa tidak mungkin untuk terus menerima keadaan keluarga yang ada. Ditambah jumlah saudara yang cukup banyak. Tentu sedikit banyak akan membebankan orang tuanya.

Sembari tetap membantu aktivitas pertanian, beliau belajar dari maestro pengusaha yang dikenal. Ikut bantu-bantu usaha orang lain sambil mempelajarinya. Bahkan harus ikut juga “action” untuk ikut jualan. Targetnya sederhana, harus bisa nabung dan nabung.

Uang hasil tabungan harus bisa melebarkan bisnis kecil yang dirintis. Motor Yamaha A100 tahun 90an menjadi amunisi pertama beliau untuk berjualan. Sampai sekitar 2 tahun, kami sekeluarga harus pindah ke Surabaya untuk bisa mendapatkan rupiah yang lebih.

Bisnis Sukses Butuh Struggle

Berbisnis itu tidak selalu untung, bahkan bisa buntung. Adakalanya seluruh daya dan upaya sudah dikerhkan, namun hasil belum maksimal. Bahkan bisa-bisa “Bocos” !

Kalau hanya memikirkan hasil akhir yang happy ending ya enak-enak saja. Seperti bisnis yang muncul belakangan ini. Cukup registrasi member, beli produk, promo ke orang lain, dapat member. Kalau level sekian atau sudah top level dapat Mercy, liburan di Eropa, Passive Income jalan terus.

Tidak semudah itu Ferguso! ada halang rintang yang harus dihadapi. Bagi bapak saya, kesulitan ekonomi (modal) sudah terlewati. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hambatan serius.

Ketangguhan secara teknis adalah hal utama. Butuh effort yang tidak biasa. Berbisnis kuliner tidak dapat dikatakan mudah, justru butuh tenaga ekstra. Bangun pagi, menembus dingin menuju ke pasar.

Membeli daging dengan kualitas terbaik. Timingnya harus tepat, kesiangan sedikit sudah disikat kompetitor. Setelah itu membeli bahan atau bumbu untuk adonan sebelum digiling. Komposisi dan takaran harus pas, mleset sedikit rasa pasti beda.

Sejalan dengan aktivitas di pasar tersebut, di rumahpun tak kalah repotnya. Mulai dari membuat siomay, tahu, dan gorengan, dan segala “addition”nya. Sambil menunggu adonan dari pasar datang untuk diolah.

Memproses adonan menjadi butiran pentol tidak semudah yang dibayangkan. Kecepatan dan ketepatan menjadi menjadi skill utama. Waktu yang terus berjalan, menunggu gerobak siap dijajahkan. Ukuran pentol harus konstan dan stabil agar tetap meraup profit.

Jam operasional bisnis dimulai sekitar pukul 9 pagi dan berakhir pada pukul 6 sore. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bertemu dengan berbagai tipikal pelanggan. Ada yang nerimo, ada juga yang cerewet minta ini itu.

Ada yang beli dengan budget tipis tapi minta isi baksonya meluber. Pembeli yang kurang bayar bahkan ngutang pun juga ada. Kalau ketemu pura-pura lupa, kalaupun ingat bilangnya tarsok (Ntar Besok).

Belum lagi ujian dari Yang Maha Kuasa. Musim di Indonesia yang cuma 2, hujan dan kemarau, cukup menjadi ujian. Ketika musim kemarau, pelanggan lebih preffer ke minuman. Kalau pas musim hujan, pembeli agak sepi. Lebih memilih menghangatkan diri di rumah.

Krisi Ekonomi 1998 dan 2008

Seingat saya, kami sekeluarga sudah kembali dari perantauan sekitar tahun 96 atau 97. Bapak bisa membeli sepetak sawah keluarga untuk dibangun sebuah rumah. Setahun kemudian, terjadilah perisitwa reformasi 98 yang rame di Ibu Kota Jakarta. Yang mana presiden Soeharto yang telah lama berkuasa lebih dari 30 tahun akhirnya lengser.

Efek krisis ekonomi 98 tidak serta-merta menghantam bisni bakso bapak. Terasanya baru tahun 2000an awal, barang kebutuhan pokok melonjak drastis. Saya pada waktu itu masih SD, tidak tahu apa-apa masalah beginian. Karyawan bakso bapak pada waktu itu ada sekitar 6 orang. Mau tidak mau harus dilakukan perampingan karyawan untuk menekan biaya produksi.

Perlu diketahui bahwa usaha kuliner, khususnya bakso memiliki beberapa komponen biaya. Mungkin kebanyakan orang ketika membeli bakso hanya menghitung pentol, siomay, tahu, atau gorengan saja. Ya… nggak salah sih, but kita perlu tahu apa saja komponen yang sering kita abaikan seperti; sambal (butuh cabai), bihun, bawang goreng (butuh bawang merah), saos & kecap, jeruk nipis, kubis/kol, seledri, dan daun bawang.

Komponen tersebut sering tidak diperhitungkan oleh pembeli. Ya kan?

Ditengah menurunnya omset dan naiknya biaya hidup, bapak tetap jalan meski terseok-seok. Justru beliau menambah jam jualannya sampai larut malam. Sekitar jam 11an malam baru pulang, kami anak-anaknya terkadang menunggu. Apalagi kondisi musim hujan, kami selalu memikirkan kesehatan dan keselamatannya. Pada suatu ketika, motor yang dinaikinya mogok akibat hujan sehingga bapak pulang sampai larut pagi.

Bisnis Sukses Butuh Istiqomah

Setelah melewati masa-masa sulit karena krisis ekonomi, tidak lantas bisnis sukses dapat diraih. Sayapun pada waktu tahun 2005-2007 harus ikut membantu perputaran roda ekonomi keluarga. Pada saat usia SMP, saya dan adik saya sudah diberikan beban tanggungjawab untuk bersih-bersih rumah dan produksi.

Kedua orang tua sudah harus full time bekerja di warung bakso, pagi – sore. Kami selepas sekolah, pukul 1 siang istirahat sejenak kemudian membagi tugas, bersih-bersih rumah atau bakar-bakar “sikil” sapi. Jika pekerjaan selesai, kami bisa melanjutkan bermain bola dilapangan atau berenang di kali.

Akhirnya, tugas tersebut sampai usia SMA tetap saya lakukan. Namun tugasnya beda, kali ini jadi kurir antar bakso ke beberapa rekanan bapak. Plus sekalian menagih uang hasil penjualan pada hari sebelumnya. Sampai pada akhirnya terjadi “macet” pembayaran dari rekanan, bahkan sampai 7 hari hasil penjualan tidak disetorkan.

Beberapa pesanan bakso untuk hajatan atau istilah masyarakat sekitar “tasyakuran” bapak layani. Hasilnya lumayan meskipun harus keluar tenaga ekstra, menyiapkan bahan dan peralatan. Bahkan ada 1 pelanggan bapak seorang “juragan” rongsokan yang pesan bakso hingga senilai 3 – 4 juta. Wuiihhh…. mantap kalau ketemu 5 orang yang seperti ini 1 bulan aja rutin, hehehe…

Pada tahun 2006 – 2009 emak sudah tidak lagi ikut berjualan bakso di warung. Posisinya digantikan oleh adik nomor 5 bapak. Setahun dua tahun berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Sesekali saya harus menjemput “rombong” bakso setiap sore. Oh ya rombongnya portable, bisa diangkat atau dipindahkan menggunakan motor.

Sampai pada tahun-tahun berikutnya, omset penjualan bakso menurun. Padahal secara kuantitas dari jumlah pentol yang terjual jumlahnya cukup banyak. Kondisi merugi ini terjadi dalam waktu berbulan-bulan. Sampai pada akhirnya diketahui bahwa saudara bapak sendiri yang melakukan “malpraktik” dalam usaha. Tidak perlu saya detailkan bagaimananya ya…

Akhirnya, posisi strategis itu diambil alih lagi oleh emak saya. Sekaligus pada waktu itu, adik saya sudah menyelesaikan pendidikannya di SMK ikut membantu. Sampai saat ini bapak sudah memiliki ruko di seberang warung “gedheg” lama. Hampir 20 tahun bapak berjualan di tepi jalan dan sawah sampai detik ini.

Tegak Lurus, bisnis sukses perlu kekuatan untuk tegak dari setiap masalah. Jatuh dan bangun lagi, jatuh dan bangun lagi begitupun seterusnya. Lurus ! bisnis sukses itu harus dijalankan terus, fokus untuk proses dan hasil maksimal, serta tidak tergoda akan bisnis-bisnis baru yang menggiurkan.

Bisnis Sukses Harus punya Orientasi

bisnis sukses - orientasi bisnis
sumber: pixabay.com

Sejak tahun 2009 sampai saat ini (2020) saya sudah tidak tinggal bersama orang tua. Semenjak kuliah di salah satu kampus negeri di Surabaya saya banyak berpindah-pindah tempat hidup. Mulai dari jaga dan tidur di warnet, buka “les-les”an sekaligus ngontrak, tidur di kampus dan sampai harus pindah-pindah kost.

Masa-masa kuliah saya lalui berbagai macam hal, tidak hanya sekedar kuliah-pulang. Ikut organisasi kemahasiswaan baik intra maupun ekstra, bantu-bantu jurusan, dan kerja-kerja freelance. Pokoknya harus menghasilkan, apapun, kalau tidak uang ya minimal dapat ilmu dan pengalaman.

Sampai pada tahun 2014, sebulan sebelum wisuda pendidikan S1 saya memutuskan untuk menikah. Sekaligus pada tahun tersebut saya sudah tercatat sebagai mahasiswa S2 pascasarjana di almamater yang sama. 3 hal sekaligus saya lakukan, berharap bisa lebih cepat dan menghasilkan.

Ternyata, tidak semudah yang dicita-citakan…

Menjalani hidup berkeluarga, bekerja, sekaligus belajar lagi ternyata berat. Apalagi kuliah ini swadaya atau atas biaya sendiri. Ditambah lagi pekerjaan yang berstatus pengajar freelance dengan gaji yang fluktuatif. Bahkan beberapa side job bahkan multiple job harus saya lakukan. Yang penting buat makan anak-istri dan bisa bayar kuliah, titik !

Sejak kuliah S1, saya sering menerima job perbaikan laptop dan komputer. Akhirnya pada 2017 saya mencoba membuka badan usaha berbentuk CV. dengan bidang jasa dan pengadaan hardware dan software. Beberapa kali dijadikan rekanan kampus-kampus PTN di Surabaya. Dan sampai saat ini menjadi rekanan tetap di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jatim dan beberapa instansi lainnya.

Tahun 2014-2018 adalah tahun-tahun “menderita” bagi kami sekeluarga. Hampir-hampir saya berpikir untuk mengundurkan diri dari kuliah S2. Terseok-seoknya studi dan pekerjaan kerap membuat stres hingga dalam sebulan sariawan tak kunjung sembuh. But, my wife is wonder women, ia selalu mensupport penuh dalam bentuk apapun. Satu hal bahwa, dukungan orang-orang terdekat turut memberikan andil mencapai bisnis sukses.

Ditengah keruwetan 4 tahun di kehidupan baru saya, bisnis bakso bapak stay on. Tanpa ada hal-hal atau inovasi baru, bikin bakso kotak, segitiga, pentol beranak, pentol pedas, atau apapun. Padahal bisnis bakso “aneh-aneh” yang kekinian tersebut sudah menjamur di feed atau story sosial media. Yang mana itu membuat saya berpikir, kenapa tidak ikut tren seperti itu ? Asumsi saya hal tersebut bakal mendongkrak omset.

Ternyata, bapak dulu punya kreasi pentol puyuh dan pentol isi telur rebus. Tapi permintaan pelanggan lebih banyak ke pentol yang standar, halus atau kasaran. Konsumen hanya ingin pentol yang benar-benar pentol ! Maksudnya bagaimana? Ya… pentol yang dari adonan pentol 100%, tidak diisi apapun (kata bapak saya). Hal tersebut istiqomah dilakukan terus menerus, tanpa pernah melirik kompetitor yang melakukan ini dan itu.

Setiap bisnis punya arah atau tujuan selain materi. Pebisnis manapun tentu akan melakukan scalling bisnisnya hingga mencapai titik tertentu. Sampai dimana sang owner bisa duduk manis, uang mengalir, punya pegawai bahkan sistem usaha. Tapi bapak saya tidak demikian, beliau hanya ingin kerja dan kerja saja. Baginya sudah cukup puas dengan apa yang dimilikinya. Terus kerja dan mengalir saja sampai suatu saat memang harus benar-benar berhenti atau digantikan anak-anaknya.

Saya pun terdiam, berpikir dan menanyakan hal yang sama pada bisnis yang saat ini dibangun.

Saat ini saya memiliki tim 3 orang saja, termasuk saya. Kalau urusan hardware saya lebih banyak terjun. Kalau urusan develop sistem web, 2 orang ini yang jadi andalan, saya hanya bagian analisis saja hehehe… Untuk rekanan lainnya saya masih dalam tahap membangun.

Orientasi saya simpel, bisa memberdayakan orang lain, berbagi rejeki, dan bisa mewariskannya pada keluarga atau orang-orang terdekat. Kira-kira orientasi bisnis sukses kalian apa ya?

Yuk ! Cobain Bakso Cak Wi

Tidak ada salahnya saya sedikit memperkenalkan bisnis bapak saya. Ya… barangkali ada yang berminat untuk meng”incip”. Atau ada yang tertarik untuk “kulak” atau jadi reseller? Monggo… Insyallah semua bisa dibicarakan.

Bakso adalah salah satu kuliner yang merakyat. Banyak digandrungi oleh anak-anak, remaja, dewasa sampai tua. Tentunya dengan range harga yang ekonomis. Kehadirannya sudah mendapatkan tempat di hati pemirsa, wkwkwk…

Secara default, isi bakso ya itu-itu saja sih. Ada pentol, tahu, siomay, dan gorengan. Pentol adalah komponen “core of the core”nya. No Pentol No Bakso ! Ada yang bilang, kualitas pentol menentukan Bergaining merk baksonya.

Tahu sendiri sebagai pelengkap ada 2 jenis, tahu kuning atau biasanya putih dan tahu goreng. Yang membedakan hanya cara memasak si “Tahu”. Tahu kuning atau putih cukup direbus, kalau tahu goreng ya di goreng dong…

Sama seperti siomay, ada 2 jenis, siomay kulit kubis atau siomay kulit pangsit. Siomay kulit kubis terlihat lebih organik dibandingkan siomay kulit pangsit yang terlihat agak mulus.

Nah, kalau gorengan versi Bakso Cak Wi itu seperti siomay kulit pangsit. Bedanya hanya cara masaknya yang jelas-jelas digoreng. Sehingga pecinta “kriuk” bisa memilih gorengan dan pecinta “kuah” bisa memilih siomay.

Bakso Kikil Plus Lontong is The Most Favorite

Lapak Bakso Cak Wi berlokasi di daerah Menganti-Gresik. Konsumennya simpel, gak neko-neko dalam memilih varian bakso. Dimana di luaran menyediakan bakso beranak, bakso lava, bakso bakso mercon, bakso bakar, dan bakso-bakso lainnya.

The Most Favorite Bakso Cak Wi adalah varian bakso kikil plus lontong. Bakso dicampur dengan irisan kikil dan “tetelan” menjadi menu yang cukup diincar konsumen. Apalagi ditambah lontong, menjadi “carbo booster” bagi pelanggan yang butuh asupan energi.

Mau coba? harganya standar pasaran bakso daerah surabaya, gresik, dan sekitarnya. Mau bakso full pentol, bakso full tahu, bakso full siomay, bakso full gorengan, hayyyuuukk aja…

Menerima Kustomisasi untuk Acara Khusus

Butuh “spek” khusus baksonya untuk acara khusus? Bakso Cak Wi bisa kok menyesuaikannya. Mungkin perlu item-item bakso tertentu nih, misalnya pentol saja dengan kuah yang banyak. Bisa !

Atau mungkin order sesuai budget dengan kualitas tetap atau kualitas tertentu. Bakso Cak Wi bisa memproduksi pentol dengan kualitas premium, bisnis, maupun yang ekonomis. Anda yang tentukan sendiri !

Itu sudah include dengan segala “printilan”nya? Ya iya lah, bumbu racikan, sambal, saos, kecap, bihun, bawang goreng sudah termasuk. Komplit, tinggal dibagi porsinya dalam wadah (oh ya, wadahnya siapkan sendiri).

Kontak Personnya dong…

Yang mau sekedar tanya-tanya, butuh info, atau bahkan berminat silahkan hubungi No WA ini. Butuh tahu “pabrik” pembuatan baksonya? Bakso Cak Wi masih skala industri rumahan dengan kapasitas produksi mencapai 50 Kg/hari.

Tinggalkan komentar

Open chat
Diskusi yuk...