5 Dampak New Normal bagi dunia pendidikan

5 Dampak New Normal bagi Dunia Pendidikan

New normal atau “kenormalan baru” bagi dunia pendidikan merupakan efek pandemi Covid-19. Wabah virus corona adalah pukulan telak bagi dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Mulai pertengahan Maret 2020, kegiatan di sekolah dan kampus diberhentikan sementara. Tidak ada aktivitas pembelajaran atau perkuliahan seperti biasa.

Bahkan, Ujian Nasional peserta didik jenjang SD/sederajat, SMP/sederajat, dan SMA/K/sederajat dibatalkan serentak.

Sekolah dan kampus dalam masa pandemi ini dituntut untuk tetap memberikan layanannya kepada masyarakat. Namun, tidak sedikit dari lembaga pendidikan yang ada “menyerah” dengan keadaan tersebut.

Disisi lain, orang tua merasa “direpotkan” karena harus ikut mengarahkan dan mengawasi pembelajaran yang diselenggarakan secara jarak jauh. Beberapa orang tua bahkan menuntut untuk tidak menjalankan kewajiban membayar SPP kepada sekolah.

Kondisi ini mungkin dapat dimaklumi. Semenjak edaran WFH atau “work from home”, penghasilan masyarakat sangat terdampak. Bukan malah naik, yang ada malah merosot tajam. Bahkan beberapa ada yang “dirumahkan”, entah sementara atau selamanya.

Pendidikan harus tetap berjalan, apapun bentuk dan caranya. Masyarakat tentunya harus siap mengambil “ancang-ancang” yang tidak biasa. Kondisi saat ini dan nanti adalah bentuk “kenormalan baru” yang mau tidak mau akan terjadi. Lalu, bagaimana dampaknya bagi pendidikan kita?

pembelajaran di masa new normal
Sumber: Pixabay.com

Pembelajaran Hybrid, 1st New Normal

Offline dan Online

Semenjak belajar dari rumah, lembaga pendidikan melakukan pembelajaran secara online atau daring. Bentuknya sangat bervariasi. Bagi sekolah yang sudah memiliki sistem yang matang, tentunya lebih siap. Salah satunya sekolah SMP Labschool Unesa yang memiliki sistem pembelajaran online berbasis website (spelabsa.sch.id).

Dimana sistem tersebut menghubungkan antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Sehingga pembelajaran dapat dilakukan, dimonitor, dan dievaluasi bersama-sama.

Bagaimana sekolah yang tidak memiliki sistem online yang terintegrasi tersebut? Tentu tetap bisa menggunakan platform digital yang ada.

Beberapa bulan lalu, aplikasi video conference zoom cukup laris manis digunakan. Aplikasi berbasis audio visual ini memang cukup efektif untuk melakukan pembelajaran langsung jarak jauh. Terlepas dari isu kemanan data penggunannya plus sifatnya yang berbayar. Aplikasi ini sudah digunakan oleh jutaan orang di dunia.

Baca Juga: 5 aplikasi video conference yang dapat digunakan untuk pembelajaran

Ke depan, setelah masa pandemi ini surut atau bahkan berakhir. Kegiatan belajar mungkin saja berjalan offline dan online. Separuh minggu di kelas, separuh minggu lagi di rumah. Lembaga pendidikan harus siap terhadap “kenormalan baru” ini.

Gadget adalah Kebutuhan

Beberapa sekolah mungkin menerapkan “haram” membawa HP atau tablet ke sekolah. Dan beberapa sekolah lainnya memberikan kelonggaran. Memperbolehkan penggunaan HP di waktu-waktu tertentu.

Di masa “new normal” nanti, gadget bisa menjadi kebutuhan. Bukan sekunder atau bahkan tersier. Penggunaan paling dominan mungkin ada di luar sekolah. Jika memang nanti pembelajaran offline-online benar-benar terjadi.

Seolah-olah gadget adalah “the first channel” untuk mendapatkan refrensi mengerjakan tugas atau proyek. Tidak salah memang. Internet saat ini menjadi “hypermedia”, hampir semua konten atau materi tersedia.

Guru Sang Kreator Konten

Tuntutan guru di masa “new normal” tentu akan sedikit banyak bertambah. Bukan hanya sekedar menunaikan tugas. Tapi hasil karyanya dapat dilihat dan dinilai oleh khalayak umum, khususnya siswa.

Kalau biasanya guru menjelaskan sebuah materi dengan teori. Ke depan guru mungkin akan nge-Vlog di sebuah tempat atau situasi langsung dan nyata.

Sebagai contoh, guru menjelaskan materi tentang perkembangbiakan vegetatif buatan tumbuhan. Mungkin pada situasi normal sebelumnya guru menyajikan beberapa gambar dan menjelaskannya secara langsung. Tapi ke depan, guru bisa membuat vlog cara mencangkok tanaman.

Tentu ini akan “memaksa” guru untuk menjadi kreator konten yang harus terus belajar untuk menghasilkan konten-konten yang berkualitas.

Kemandirian Belajar

Pembelajaran offline-online menuntut siswa lebih aktif merespon. Bukan hanya menunggu, kesiapan dan inisiatif harus selalu on.

Apalagi dengan sistem daring yang lebih protokoler. Setiap aktivitas bisa diatur “schedulle” pelaksanaannya. Membuat siswa juga harus dipaksa dan memaksakan diri untuk terus belajar.

Fleksibilitas sistem pembelajaran juga sedikit banyak akan mempengaruhi gaya belajar. Siswa bisa menentukan secara mandiri kapan memulai dan kapan mengakhiri setiap kegiatan belajarnya.

Bahkan bagi siswa tertentu yang bermental “strong”, dapat menilai secara mandiri apakah hasil yang dicapai sukses atau tidak. Sekaligus perlu dicatat bahwa, kebutuhan personil sekolah sebagai pengembang mental siswa adalah penting untuk disediakan.

New Normal #2 Interaksi Sosial Berjarak

Rombel Lebih Sedikit

“Kenormalan lama” dalam suatu kelas memiliki “rombel” atau rombongan belajar sebanyak 20 – 30 siswa. Mungkin jumlah tersebut tidak menjadi masalah jika ukuran kelas memadai.

“Social Distancing” mengharuskan siswa memiliki “jarak” fisik dalam interaksi sosial.

Coba bayangkan, kalau 1 siswa diharuskan menjaga jarak minimal 1 meter. Itu artinya 1 meter ke segala penjuru arah. Baik ke kanan ke kiri, ke depan dan ke belakang.

Ambil saja jumlah murid 20 orang saja. Maka, dibutuhkan sekitar 20 meter persegi untuk tempat duduknya saja. Itu belum di tambah sekitar 2 – 3 meter jarak siswa paling depan dengan papan tulis. Dibutuhkan minimal sekitar 36 – 40 meter persegi untuk 1 kelas dengan kapasitas 20 siswa.

Biasanya rombel yang terbanyak diisi oleh SMP/SMA/SMK, khususnya sekolah negeri. Itu hanya melihat ukuran kelas, belum ruang guru, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, dan sarana olah raga. Apalagi ruang-ruang layanan umum tersebut sulit untuk mengkonfigurasi jumlah siswa yang menggunakan.

Bisa jadi di masa mendatang, dengan “ketakutan” akan virus corona jumlah rombel akan lebih sedikit jika dibandingkan sekarang. Dengan pola 1 bangku 1 siswa.

Budaya Baru Memberikan Salam

Ada sekolah yang masih memegang teguh adat. Berbaris 15 menit sebelum pukul 7. Di pintu masuk kelas guru berdiri menunggu untuk disalami dan dicium tangannya.

Ke depan, budaya memberikan salam melalui kontak fisik akan tiada. Berganti “salam jarak jauh” atau lebih dikenal dengan “namaste”.

Atau sebagai seorang muslim, cukup mengucapkan “Assalammualaikum”. Mungkin harus di”filter” menggunakan masker agar “zero droplet”.

Kerja Kelompok?

Bagaimana dengan tugas-tugas secara berkelompok? Jika memungkinkan secara online, ya sudah aman dari kontak fisik. Senjata utamanya hanya gadget dan wifi. Bisa dikerjakan dimanapun dan kapanpun asal sesuai “deadline”.

Lalu bagaimana jika tugasnya bukan “paper” (less) ? Membuat sebuah produk 3D misalnya. Ini polanya masih belum ter-amati sekarang. Bisa jadi, setiap anggota kelompok membuat bagian-bagian produknya. Kemudian dikumpulkan dan di “arrange” menjadi satu.

Kirim bagian-bagian produknya cukup pakai kurir.

New Normal #3 Kurikulum PHBS (Pola Hidup Bersih & Sehat)

Budaya & Aturan PHBS

Kampanye PHBS sebelum masa pandemi sudah ada. Mungkin belum maksimal saja. Maklum, butuh “sebab” untuk membuat orang mau mendengar.

Piket kebersihan kelas sudah menjadi sebuah budaya bagi siswa. Ada sekolah yang sangat “strict” tentang masalah kebersihan di lingkungan sekolah. Tidak piket denda, buang sampah sembarangan denda, tidak membuang sampah sesuai “kode warna” di tempat sampa denda.

Nampaknya, di masa mendatang PHBS bukan hanya sekedar budaya. Keberadaannya akan menjadi sebuah “undang-undang” yang diformalkan menjadi kurikulum.

PHBS bisa menjadi wacana “mapel” khusus sekolah. Akan mungkin sejajar dengan wacana BNPB menjadikan mitigasi sebagai salah satu “mapel” di setiap sekolah.

Fasilitas PHBS

Ada 3 fasilitas utama yang harus tersedia di sekolah sebagai upaya “giat” PHBS. Sabun cuci tangan, Hand Sanitizer (HS), dan Thermal Gun.

Bahkan lebih ekstra lagi, sekolah harus menyediakan ruang isolasi khusus jika ada siswa yang mengalami gejala-gejala yang mengarah pada paparan virus corona. Plus, jika mampu sekolah bisa menyediakan tenaga medis tersendiri.

Sekolah juga harus rajin-rajin melakukan sterilisasi. Baik di dalam maupun di luar ruangan.

1 siswa 1 masker wajib. Kalau perlu, siswa yang “membandel” tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran.

Vaksinasi

Sampai opini ini ditulis, belum ada rilis vaksin virus corona dari pemerintah. Bahkan WHO sendiri mengatakan bahwa virus corona selamanya akan ada. Seperti virus-virus lain yang muncul duluan.

Pendaftaran siswa baru pun mungkin akan terdampak. Bisa-bisa sekolah mewajibkan surat keterangan sehat dari dokter. Bukan sekedar surat keterangan yang 15 ribu – 30 ribuan itu. Yang mudah didapatkan dari puskesmas dengan cukup di tensi, ukur BB dan TB.

Surat sehat tersebut adalah “bebas corona”. Entah pakai rapid test, tes swab, maupun PCR. Jadi, yang dinyatakan positif bisa-bisa tidak jadi sekolah.

Terkait kontroversi ada atau tidaknya vaksin dan isu mengenai politisasi pandemi ini. Vaksinasi akan terus digulirkan dengan argumen, “keselamatan dan kesehatan umat manusia”.

New Normal #4 Home Schooling

Kecemasan Wabah

Meskipun dinyatakan sudah relatif aman dari pandemi. Masa-masa “new normal” akan tetap dihantui kecemasan. Orang tua menjadi was-was terhadap anaknya. Apalagi jika harus berkegiatan di luar rumah.

Dimungkinkan para orang tua akan mulai bernegosiasi dengan sekolah. Memberikan kelonggaran dalam kegiatan belajarnya. Offline-Online seperti yang dibahas sebelumnya bisa jadi sebuah tuntutan.

Sekolah-sekolah formal yang ada akan dituntut ekstra sehat dan aman. Dalam hal ini sekolah juga mempunyai ketakutan tersendiri. Takut terjadi kelalaian atau kealpaan, sehingga “trust” orang tua menjadi hilang.

Peran Dominan Keluarga

Kita tahu bahwa masa pandemi ini, anak dikembalikan sementara ke orang tua. Belajar di rumah bersama orang tua.

Bagi orang tua yang bisa beradaptasi dengan “new normal”, belajar dari rumah tidak masalah. Orang tua yang menjali WFH tentu akan mencoba untuk berbagi porsi waktu antar bekerja dan menemani belajar anak. Bagi orang tua yang tidak demikian, tentu menjadi masalah tersendiri.

Orang tua mulai harus memikirkan “kurikulum” khusus bagi anaknya. Tidak hanya menggantungkan muatan pendidikan hanya dari sekolah. Terutama pendidikan tentang agama. Dimana masa pandemi ini memberikan banyak pelajaran.

Wabah yang muncul ini bisa menjadikan “kedekatan” dengan sang pencipta. Melihat sudut pandang lain bahwa ini adalah ujian terhadap dosa-dosa manusia. Mengingatkan para pelaku kejahatan, maksiat, dan sebagainya. Peran orang tua harus bisa hadir memberikan warna baru bagi anaknya.

Orientasi Pendidikan

Home Schooling bisa jadi orientasi baru dalam pendidikan. Bahkan bisa jadi sebagai sebuah pilihan tepat di masa “new normal”.

Kecenderungan masyarakat mendatang melakukan aktivitas hidupnya secara online. Migrasi dari cara-cara konvensional menjadi setengah atau bahkan full digital. Demikian halnya dengan pendidikan.

Orang tua akan memiliki pandangan bahwa “materi” seperti pengetahuan bisa didapatkan dari internet. Pun juga keterampilan bisa juga. Meskipun tetap butuh di asah agar menjadi lebih mahir. Hal ini tidak berlaku untuk “attitude” atau bahasa pendidikanya “afektif”.

Bagi orang tua yang mampu mengarahkan pendidikan anak di rumah memandang sekolah hanya formalitas saja. Yang terpenting legal dan diakui oleh pemerintah. Maka pendidikan dari rumah, guru datang ke rumah, belajar apa yang hanya dibutuhkan, menjadi pilihan di masa mendatang.

New Normal #5 Individual & Digital

Kebiasaan Mandiri

Dalam tulisan “Corona Kills Everyting” oleh Yuswohady seolah-olah manusia akan banyak mengurung diri. Menjalankan aktivitas hidupnya secara sendiri, atau minimal dengan orang atau keluarga dekat saja.

Sebelum pandemi covid-19 saja, manusia mulai “individual” dengan hadirnya teknologi. Dulu, orang mau bepergian menuju suatu tempat harus bertanya lebih dari 1x kepada orang-orang yang ada di jalan. “Maps digital” mengabrasi kebiasaan tersebut.

Teknologi plus Pandemi sukses menjadikan manusia mengembangkan individualitasnya. Di masa “new normal” segala perilaku individu masyarakat menjadi ajang bertahan yang ekspresif. Ditambah masa pandemi ini kondisi masyarakat “drop down” dalam sisi ekonomi.

Dulu, ketika butuh makan cukup beli dari layanan online. Namun sekarang, cooking is back. Bahkan kegiatan-kegiatan DIY atau Do it Yourself banyak bermunculan. Seperti merawat wajah sendiri, memperbaiki komputer sendiri, dan sebagainya.

Bahkan sebagai upaya mengusir kekhawatiran dari terjangkitnya virus corona. Banyak bermunculan ramuan-ramuan atau jamu dari herbal seperti jahe merah, empon-empon dan sebagainya. Luar biasa upaya individualitas masyarakat yang ditunjukkan dalam masa pandemi ini.

Maka, pendidikan harus juga diarahkan dalam upaya kebangkitan individual work system.

Gaya Hidup Serba Online

Gelombang PHK massal mengakibatkan masyarakat mulai berpindah haluan. Menjadi karyawan tidak selamanya aman, ketidakpastian selalu membayangin. Ditambah status karir tidak dapat dijadikan jaminan di masa mendatang.

Gaya hidup saat ini serba online. Pun demikian dengan kondisi “new normal”, everything is online. Semua kondisi sudah sangat mendukung dengan segala pembatasan interaksi sosial. Sudah saatnya banting stir ke arah teknologi internet.

Semua orang bisa menjadi pembeli dan penjual online. Ke depan “traffic” transaksi yang terjadi di atas “awan” semakin membludak. Tinggal kita mau ikut ambil bagian atau tidak?

Sekolah perlu membidik ke arah digital. Bukan hanya sebagai pengguna saja, tapi juga sebagai pemain. Digitalisasi adalah sarana untuk berakselerasi. Tapi yang terpenting adalah menjadikan peserta didik memiliki nilai “jual” dengan kompetensi yang dimiliki.


New Normal is New Ways, But Human is a Human

Tinggalkan komentar

Open chat
Diskusi yuk...