blog banner 3 Prinsip Publikasi Jurnal yang Wajib Diketahui Mahasiswa

3 Prinsip Publikasi Jurnal yang Wajib Diketahui Mahasiswa

Memahami Dasar Hukum Publikasi Jurnal

Publikasi jurnal atau publikasi jurnal ilmiah adalah penyebarluasan hasil penelitian oleh sivitas akademika perguruan tinggi. Tujuannya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.

Aturan kewajiban publikasi jurnal secara formal tertuang dalam;

  1. UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi
  2. Peraturan Menteri RISTEK DIKTI (sekarang DIRJEN DIKTI Kemdikbud) No. 50 Tahun 2018 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi
  3. Peraturan Menteri RISTEK DIKTI (sekarang DIRJEN DIKTI Kemdikbud) No. 9 Tahun 2018 Tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah
  4. UU No. 13 Tahun 2016 Tentang Paten
  5. UU No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
  6. Permendiknas No. 17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi

Penjelasan singkatnya begini !

UU No. 12/2012 tentang PT (Pendidikan Tinggi) merupakan landasaan konseptual tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi. Lebih kongkritnya dituangkan dalam PERMEN (Peraturan Menteri) No. 50/2018 yang isi pokok kurang lebih sebagai berikut;

  1. Lulusan program sarjana (S1) dan sarjana terapan (D4) wajib menyusun skripsi atau tugas akhir dan mengunggah di portal RAMA (Repositori Tugas Akhir Mahasiswa).
  2. Lulusan program magister (S2) wajib menyusun tesis atau bentuk lain yang setara dan makalah untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah terakreditasi atau diterima untuk diterbitkan di jurnal internasional.
  3. Lulusan program magister terapan (S2) wajib menyusun tesis atau bentuk lain yang setara dan karya yang dipresentasikan atau dipamerkan.
  4. Lulusan program doktor (S3) wajib menyusun disertasi dan makalah untuk dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.
  5. Lulusan program doktor terapan (S3) wajib menyusun disertasi dan makalah untuk dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi minimal peringkat 3 sinta atau diterima di jurnal internasional atau karya yang dipresentasikan atau dipamerkan di lingkup internasional.

Ini bisa jadi “alert” bagi mahasiswa S2 dan S3 untuk bisa menghasilkan artikel yang terpublikasikan di jurnal. Untuk publikasi jurnal ilmiah level nasional, mahasiswa bisa merujuk aturan PERMEN No.9/2015 sebagai acuan memilih jurnal. Sedangkan pada level internasional, mahasiswa bisa merujuk pada portal SINTA untuk melihat reputasi jurnal yang sesuai.

Karya ilmiah merupakan sebuah hasil kecendikiaan seseorang melalui kaidah tertentu. Hasilnya dijamin dan dilindungi oleh undang-undang. Beberapa hasil penelitian mungkin berpotensi komersial. Sehingga keberadaannya harus diatur untuk menjaga hak-hak pemilik.

Tulisan jurnal pun dapat dikatakan sebagai aset yang dapat dipantenkan dan mendapatkan hak cipta. Aturannya jelas merujuk pada poin ke-4 dan ke-5. Pelanggaran paten dan hak cipta jelas ada sanksi hukumnya.

Nah, yang jadi poin penting berikutnya adalah mahasiswa harus “aware” terhadap plagiasi. Karya ilmiah wajib bebas dari unsur plagiat atau penjiplakkan. Wajib bebas bukan berarti zero plagiarism atau nol plagiat. Ada ambang batasnya yang ditentukan oleh masing-masing kampus.

Untuk jenjang S1 tingkat plagiasi yang diperbolehkan tidak lebih dari 30%, jenjang S2 tidak lebih dari 25%, dan S3 tidak lebih dari 20%. Aturan disetiap perguruan tinggi bisa saja berbeda.

Bagaimana cara mengetahui tingkat plagiasi tulisan kita? Tentu ada yang gratis dan ada yang bayar. Fiturnya pun pasti berbeda, yang bayar tingkat kedalaman “screening”nya jelas lebih tajam. Coba baca artikel lain yang membahas tools plagiarism detector gratis dan berbayar.

Apa yang terjadi jika tingkat plagiasi terlalu tinggi? Jelas kalian akan mendaptkan teguran untuk perbaikan. Namun, yang paling “apes” jadwal sidang skripsi/tesis/disertasi kalian akan tertunda. Bahkan yang paling parah, pencabutan ijazahpun bisa dilakukan meskipun kalian dinyatakan lulus. Serem kan ?!

Memahami Etika Publikasi Jurnal

Artikel penelitian merupakan ringkasan dari laporan penelitian. Bagi mahasiswa, laporan penelitian bisa berwujud skripsi, tesis, ataupun disertasi. Produk laporan penelitian tersebut disusun sesuai dengan standar penulisan karya ilmiah. Biasanya setiap kampus memiliki standar atau pedoman penulisan masing-masing.

Pedoman penulisan tersebut kurang lebih berisi; sistematika penulisan, format pengetikkan, dan teknik penulisan.

Sistematika penulisan berkaitan dengan susunan laporan penelitian yang terdiri dari bagian awal, inti dan akhir. Setiap kampus atau perguruan tinggi terkadang memiliki “style” tersendiri dalam penyajiannya.

Sedangkan format pengetikkan lebih kepada hal teknis dalam urusan ketik-mengetik. Poin yang perlu diperhatikan pada bagian ini adalah; font, paragraf, dan page setup. Coba pelajari lebih detail pembahasan tentang dasar wordprocessing.

Yang cukup sulit dari pedoman penulisan adalah teknik penulisan. Bagian ini merupakan “ubo rampe” karya ilmiah kita layak atau tidaknya. Khususnya pada bagian pengutipan rujukan. Beberapa kampus menetapkan jumlah penggunaan rujukan berupa jurnal ilmiah. Ada yang minimal 20 jurnal dengan 10 jurnalnya harus level internasional yang bereputasi.

Dasar teknik penulisan ini tentu merujuk pada sebuah standar atau “gaya” tertentu. Yang paling umum digunakan untuk urusan penulisan refrensi adalah APA atau American Psychological Association. Sedangkan gaya penulisan merujuk pada PUEBI atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (Versi terbaru dari EYD).

Karya ilmiah harus memberikan sumbangan bagi pengembangan dan pembaharuan ilmu sesuai dengan kaidah/pijakan penelitian yang ilmiah

Lantas bagaimana dengan publikasi ilmiah? Setidaknya, ketika Anda sudah melalui fase di atas tadi, langkah Anda sudah 75%. Namun ini sangat bergantung dari kebijakan kampus atau perguruan tinggi. Sejauh mana tuntutan publikasi yang harus Anda penuhi untuk meriah gelar.

Untuk mahasiswa S1 beberapa kampus memiliki kebijakan yang cukup longgar. Hanya publikasi artikel di jurnal “lokal” kampus sudah bisa. Tapi jangan salah paham ! tidak semua jurnal kampus levelnya lokal (tidak terakreditasi/akreditasi rendah). Beberapa jurnal “lokal” kampus memiliki reputasi nasional, coba cek jurnal di kampus kalian !

Sedangkan untuk mahasiswa S2 lebih “greget” lagi. Beberapa kampus mewajibkan publikasi di level internasional. Tidak jarang beberapa kampus program pascasarjana menggelar international conference. Hal itu dilakukan untuk memberikan wadah untuk mahasiswa bisa publikasi karya ilmiahnya.

Bagaimana dengan mahasiswa S3? Ini lebih “ngeri-ngeri sedap”. Mungkin hampir setiap kampus menerapkan aturan yang sama, yakni publikasi jurnal internasional bereputasi. Scopus dan Thompson Reuter dalam jagad jurnal terkenal sebagai peng-Index dengan reputasi tinggi. Ini yang membuat hampir sebagian besar mahasiswa doktoral menjadi tidak nafsu makan, wkwkwkwk !

Etika dalam publikasi jurnal dari masing-masing publisher bisa berbeda-beda. Mereka memiliki “template” masing-masing. Ada yang sederhana ada yang rumit, bergantung dari reputasinya (tinggi-sedang-rendah). Etika secara umum menempatkan kita sebagai pengarang jurnal ilmiah.

Merujuk pada aturan LIPI No. 5 Tahun 2014 tentang Kode Etika Publikasi Ilmiah kurang lebih sebagai berikut;

  1. Pengarang bertanggungjawab secara kolektif untuk pekerjaan dan isi dari artikel meliputi metode, analisis, perhitungan, dan rinciannya.
  2. Pengarang menjelaskan keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian.
  3. Pengarang segera menaggapi komentar yang dibuat oleh reviewer/mitra bestari secara profesional dan tepat waktu.
  4. Pengarang menghormati permintaan dari publisher untuk tidak menampilkan hasil penemuan (hasil wawancara atau media lainnya) jika diminta.
  5. Pengarang membuat pernyataan bahwa artikel yang diserahkan adalah asli, belum pernah dipublikasikan dalam bahasa apapun, dan tidak sedang dalam pengajuan ke publisher lain.
  6. Pengarang memberikan informasi kepada publisher jika ada kesalahan dalam artikel yang diserahkan.
  7. Pengarang memastikan nama-nama yang tercantum sebagai pengarang termasuk urutannya sesuai dengan urutan kontribusi dan disetujui oleh seluruh anggota.
  8. Pengarang memastikan mendapatkan izin tertulis atas bahan, baik sebagian atau keseluruhan yang memiliki hak cipta.
  9. Pengarang merujuk kerja orang lain secara tepat dalam sitasi dan tidak menyalin daftar pustaka bila memang tidak membaca sendiri karya tulis yang disitasi.
  10. Pengarang menyiapkan bukti bahwa penelitian yang dilakukan memenuhi persyaratan etika penelitian jika diminta.

Lebih jelas dan lengkap anda bisa mengakses salinan berkas atau dokumen tersebut melalui link berikut.

Memilih Publisher untuk Publikasi Jurnal

Publikasi jurnal secara umum dibagi menjadi 2 yakni; publikasi jurnal nasional dan publikasi jurnal internasional. Baik nasional maupun internasional, kalian perlu memperhatikan hal-hal berikut;

  1. Indeks Jurnal & Ranking Jurnal
  2. Akreditasi Jurnal
  3. Predator atau tidak?

Untuk publikasi jurnal Indonesia ada SINTA (Science and Technology Index) dan GARUDA (Garba Rujukan Digital). Yang bertugas meng-Indeks jurnal adalah GARUDA dan yang bertugas me-Ranking jurnal adalah SINTA.

Untuk publikasi jurnal internasional ada Scopus dengan Scimago dan Reuters Thopmson dengan WOS (Web of Science). Scopus dan Reuters Thompson adalah peng-indeks jurnal. Sedangkan Schimago dan WOS yang melakukan perangkingan jurnal yang terindeks.

Jadi tugas peng-indeks adalah menyusun daftar jurnal (beserta kontennya) apa saja yang qualified. Sedangkan tugas perangking adalah menentukan kedudukan suatu jurnal berdasarkan kriteria tertentu seperti; impact, H-index, dan citations. Sederhananya, perangkingan didasarkan pada kinerja jurnal yang menunjukkan reputasi jurnal tersebut.

Perankingan SINTA ditandai oleh kode S1 (SINTA 1) sampai S6 (SINTA 6). Sedangkan Scimago melakukan perangkingan yang ditandai dengan kode Q1 (QUARTILE 1) sampai Q4 (QUARTILE 4). S1 dan Q1 merupakan peringkat tertinggi sedangkan S6 dan Q4 adalah peringkat terendah.

Bagaimana dengan publikasi jurnal nasional terakreditasi? Untuk urusan akreditasi secara nasional merujuk pada ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional). Akreditasi merupakan bentuk penilaian terhadap jurnal apakah relevansi, kualitas, dan kuantitas sudah sesuai. Jadi akreditasi merupakan upaya monitoring dan evaluasi berkala terhadap suatu jurnal ilmiah.

Apa yang dimaksud jurnal predator? Jurnal jenis ini biasanya pengindeksnya tidak tembus/tidak diakui/tidak resmi. Selain itu, terbitannya pun acak atau tidak berkala. Susunan editorial boardnya pun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dan biasanya jurnal predator tidak bersifat open access.

Tujuan oknum yang membuat jurnal predator adalah jelas untuk meraup keuntungan. Memanfaatkan kebutuhan jurnal bagi mahasiswa maupun dosen, pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tersebut menjadikannya lahan basah. Tips sederhana adalah, jangan pernah tergiur cepat publish dan berbiaya murah. Menerbitkan jurnal tidak bisa instan, apalagi dengan kualifikasi peng-indeks bereputasi dan ranking yang tinggi.

Menggunakan Jasa Pihak Ke-3 untuk Publikasi Jurnal

Apakah publikasi jurnal gratis? Sepertinya tidak ada yang gratis. Kecuali penerbit mengenal kalian sebagai seorang peneliti handal. Mungkin kalian akan mendapatkan “slot” publikasi jurnal secara cuma-cuma.

Apalagi untuk publikasi jurnal internasional gratis. Bisa jadi tidak ada sama sekali. Setiap jurnal memerlukan biaya dalam pengelolaanya. Mulai dari fee editorial board, pemeliharaan sistem e-journal, biaya cetak jurnal (jika versi cetak), dan biaya lainnya.

Bagaimana cara yang mudah? Hanya bisa ditempuh dengan 2 cara. Berusaha sendiri atau menggunakan jasa pihak ke-3.

Berusaha sendiri itu lebih baik. Kaya akan pengalaman. Tapi harus menggunakan usaha yang cukup ekstra. Apalagi untuk publikasi jurnal level nasional S3 sampai S1 atau yang internasional bereputasi. Tentu akan memakan waktu, biaya, tenaga dan pikiran yang cukup banyak jika tidak dilakukan secara efisien.

Menggunakan jasa pihak ke-3 bisa menjadi pilihan. Tentu tidak melanggar aturan. Yang terpenting karya ilmiah kalian yang buat, 100% orisinil buatan sendiri. Jadi, pihak ke-3 hanya sebagai perantara untuk mengurus proses editing service, submit, review saja. Perbaikan tetap harus dilakukan oleh penulis.

Salah satu jasa publikasi jurnal yang dapat digunakan sebagai refrensi adalah jakad media publishing. Perusahaan ini memiliki legalitas, kantor fisik yang berdomisili di kota Surabaya. Selain itu, didukung oleh tim pengelola publikasi yang kompeten. Layanannya pun ada SOPnya, setiap layanan yang diberikan tentunya bergaransi. Butuh layanan publikasi jurnal tersebut ? Silahkan dicoba.

Tinggalkan komentar

Open chat
Diskusi yuk...