Hello Sahabat Skula,

Sering sekali sebagai orang tua atau pendidik di sekolah, kita menghadapi anak yang bermasalah dalam pengaturan emosi. Seketika saja anak bisa berubah menjadi “monster”, emosi yang tidak terkendali seperti menangis histeris ketika keinginannya tidak terpenuhi, berguling-guling di lantai mal ketika tidak dibelikan mainan, bahkan anak bisa saja memukul atau meludahi. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Mengatasi Tantrum pada Anak (Sumber: www.wajibbaca.com)

Perubahan sikap anak menjadi “monster” tersebut dinamakan temper tantrum. Dr. Meta Hanindita, seorang dokter spesialis anak, menjelaskan tantrum adalah cara anak untuk mendapatkan perhatian agar apa yang diinginkannya tercapai. Penyebab tantrum yang paling sering adalah karena rasa lapar atau lelah yang membuat anak menjadi lebih sensitive dan mudah emosi.

Pada usia berapa anak mulai mengalami tantrum?

Anak mulai mengalami tantrum ketika memasuki usia 2 tahun dan biasanya dapat berkurang dengan sendirinya ketika anak memasuki usia 4 tahun.

Mengapa di usia 2 tahun?

Pada usia 2 tahun anak mulai memiliki kesadaran diri dan disertai dengan kemampuan komunikasi yang masih terbatas, sehingga anak mengekspresikan kemarahannya dalam bentuk lain. Tantrum biasanya cara yang digunakan anak untuk mencari perhatian agar keinginannya bisa terpenuhi.

Tantrum pada Anak (sumber:www.haibunda.com)

Meta Hanindita dalam bukunya Play and Learn memaparkan beberapa tips mengatasi anak tantrum.

1. Jangan ikutan tantrum

Hal yang paling utama dari menghadapi anak tantrum adalah Jangan Ikutan Tantrum!

Apa jadinya jika menghadapi anak yang sedang emosi dengan diri kita yang emosi pula? Pasti tidak akan ketemu hasilnya. Menghadapi anak dengan emosi sama saj dengan membenarkan perilaku emosi anak. Cobalah tarik nafas panjang terlebih dahulu agar Sahabat Skula lebih santai.

2. Belajar menjadi cuek

Apapun yang anak lakukan ketika tantrum, usahakan Sahabat Skula bisa sedikit cuek. Jauhi terlebih dahulu anak yang sedang menghadapi tantrum. Jika anak mendekat untuk membutuhkan sesuatu dari kita, ajak anak untuk bisa menyampaikan secara jelas. Selain itu, Sahabat SKula bisa memeluk anak hingga tenang meski awalnya anak meronta. Setelah anak tenang, barulah cari tahu penyebab tantrumnya.

3. Tidak menawarkan imbalan

Jangan pernah menawarkan imbalan apapun pada anak ketika sia anak menghadapi tantrum. Mungkin kita berpikir bahwa imbalan akan menghentikan tantrumnya, tapi ini membuat anak akan berpikir menangis terlebih dahulu agar keinginannya dapat tercapai.

4. Memberikan pujian, pelukan, dan ciuman jika anak sudah mulai tenang

Dengan memberikan pujian, pelukan, dan ciuman, anak akan merasa disayang dan mendapatkan perhatian.

5. Meminta anak untuk meminta maaf

Jika anak sudah tenang, kita bisa menjelaskan jika apa yang diinginkan tak bisa selesai dengan menangis, tetapi bisa dibicarakan. Ajarkan juga anak meminta maaf agar dia mengetahui kesalahanya.

Nah, Sahabat Skula itu tadi 5 tips menghadapi anak yang sedang mengalami Tantrum. Mengatasi tantrum pada anak usia dini sangat penting agar tidak menjadi kebiasaan hingga dewasa. Bisa Sahabat Skula coba dirumah ya! Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *